Tuesday, February 20, 2007

Karimun Jawa

Karimun Jawa adalah gugusan kepulauan yang terletak di utara kota Jepara, provinsi Jawa Tengah. Dari 27 pulau hanya 5 pulau diantaranya yang berpenduduk. Mata pencaharian utama sebagian besar penduduk karimun adalah sebagai nelayan. Selain etnis Jawa, Karimun Jawa juga dihuni etnis Bugis dan Madura. Saat ini, kepemilikan tanah di kepulauan ini telah banyak berpindah tangan dari penduduk Karimun ke tangan penduduk luar Karimun, bahkan Warga Negara Asing. Menurut penuturan warga, di awal tahun 2000-an, tanah di Karimun dijual hanya seharga Rp. 2500 per meter sehingga tidak segan-segan orang luar Karimun membeli berhektar-hektar tanah warga.

Pasar Tradisional


pasar tradisional ini buka setiap hari mulai pukul lima hingga pukul tujuh pagi di areal seluas kurang lebih 10 x 15 meter (sudah termasuk badan jalan yang dimanfaatkan sebagai tempat berjualan).

Rumah Bugis

Rumah Orang Bugis di Karimun Jawa

Legenda

Islam di Karimun Jawa disiarkan oleh Sunan Nyamplungan yang bermana asli Amir Hasan. Syekh Amir Hasan adalah putra dari Sunan Muria. Karena terlalu di manja Amir Hasan menjadi bandel dan keras kepala, sehingga ia dititipkan kepada pamannya yang tidak lain adalah Sunan Kudus untuk dididik agar menjadi anak baik dan taat beragama. Saat akhirnya Amir Hasan menjadi anak baik, Sunan Muria sangat bangga akan perubahan putranya itu. Dan, kemudian ia mengutus putranya untuk pergi ke sebuah pulau yang tampak kremun-kremun (akhirnya disebut Karimun) dari puncak Gunung Muria di Jepara.
Amir Hasan berangkat ke pulau itu disertai dua orang abdi dan diberi bekal dua buah biji nyamplung. Bibit/ biji nyamplung ini tumbuh subur dan dan berkembang biak diseluruh pulau sehingga Amir Hasan dkemudian hari diberi gelar Sunan Nyamplungan.
Legenda menyebutkan kapal yang digunakan sang Sunan dari Jepara ke Karimun Jawa telah membantu dan menjadi sebuah pulau kecil di sekitar pantai Legon Lele.
Pantai Legon Lele juga mempunyai cerita tersendiri. Sewaktu berangkat ke Karimun Jawa, Amir Hasan tidak sempat berpamitan dengan Ibunya. Padahal, Bunda sudah menyiapkan bekal untuk putranya yaitu ikan lele dan siput yang telah dimasak. Namun rupanya Amir Hasan telah berangkat tanpa sempat sang Bunda memberikan bekal untuk anaknya. Karena kecewa, bekal ikan dan siput yang telah disiapkan dibuangnya ke laut. Legenda menceritakan bahwa atas kehendak yang Maha Kuasa, bekal yang dibuang itu terbawa ombak mengikuti perjalanan Amir Hasan. Di pulai bekas kapal yang digunakan Amir Hasan kini banyak ikan lele yang merupakan keturunan dari ikan-ikan tersebut dan daerah tersebut hingga kini dinamakan Legon Lele. Keistimewaan lele yang ada di pulau Karimun Jawa ini adalah ikan tersebut tidak memiliki patil.
Makam Sunan Nyamplungan terdapat di pulau Karimun Jawa. Makam tersebut masih banyak diziarahi baik oleh penduduk Kkarimun maupun luar Karimun untuk berdoa dan meminta berkah. Pada saat keberangkatannya dari Pulau Jawa, Amir Hasan juga membawa Mustaka Mesjid yang hingga kini masih ada dan disimpan di kompleks makam Sunan Nyamplungan.